PROFIL BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA BERDASARKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA

NOVI QURROTUL A’YUUN, 17204153203 (2019) PROFIL BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA BERDASARKAN KEMAMPUAN MATEMATIKA. [ Skripsi ]

[img]
Preview
Text
COVER.pdf

Download (739kB) | Preview
[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf

Download (362kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (130kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (395kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (619kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB III.pdf

Download (389kB) | Preview
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (2MB)
[img]
Preview
Text
BAB V.pdf

Download (208kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB VI.pdf

Download (97kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (260kB) | Preview

Abstract

ABSTRAK Skripsi dengan judul “Profil Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita Berdasarkan Kemampuan Matematika” ini ditulis oleh Novi Qurrotul A’yuun, NIM 17204153203, Pembimbing, Ummu Sholihah, M.Si. Kata Kunci: Proses Berpikir, Berpikir Kritis, Soal Cerita, Sistem Persamaan Linier Dua Variabel, Kemampuan Matematika Berpikir kritis merupakan berpikir secara mendalam dengan melibatkan berbagai asumsi dalam proses pemecahan masalah dan membuktikan asumsi yang benar. Kemampuan berpikir kritis merupakan hal penting untuk dimiliki seorang peserta didik dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika. Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misal melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten, dan inkonsisten. Kurikulum 2013 menuntut siswa mampu memecahkan masalah matematika berbentuk soal cerita (verbal), dibutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk memahami soal berbentuk cerita dan kemampuan mengubah soal cerita menjadi model matematika. Berdasarkan data di sekolah siswa memiliki kemampuan matematika yang berbeda-beda, secara umum dibedakan menjadi kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Sehingga peneliti ingin mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan kemampuan matematikanya dalam menyelesaikan soal cerita. Tujuan penelitian ini adalah (1) Untuk mendeskripsikan proses berpikir kritis siswa kemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal cerita pada materi sistem persamaan linear dua variabel, (2) Untuk mendeskripsikan proses berpikir kritis siswa kemampuan matematika sedang dalam menyelesaikan soal cerita pada materi sistem persamaan linear dua variabel, (3) Untuk mendeskripsikan proses berpikir kritis siswa kemampuan matematika rendah dalam menyelesaikan soal cerita pada materi sistem persamaan linear dua variabel. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif yang dilaksanakan di SMPN 3 Bandung Tulungagung. Setiap kemampuan matematika diwakili 2 siswa, sehingga subjek penelitian ada 6 siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan: (1) Kemampuan berpikir kritis siswa dengan kemampuan matematika tinggi sudah mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan (identify), menentukan apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal (define), menentukan jawaban (enumerate), menganalisis jawabannya dengan baik (analyze) dan mampu memberikan alasan dengan jelas mengapa memilih metode/rumus tersebut untuk mengerjakan soal (list), namun kurang mampu dalam memeriksa kembali jawabannya (self-correct) karena sudah yakin bahwa jawabannya benar (2) Kemampuan berpikir kritis siswa dengan kemampuan matematika sedang sudah mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan (identify), menentukan apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal (define), menentukan jawaban (enumerate) dan mampu memberikan alasan dengan jelas mengapa memilih metode/rumus tersebut untuk mengerjakan soal (list), namun kurang mampu dalam menganalisis jawabannya (analyze) dan tidak memeriksa kembali jawabannya (self-correct) (3) Kemampuan berpikir kritis siswa dengan kemampuan matematika rendah sudah mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan (identify), menentukan apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal (define) dan mampu menentukan jawaban (enumerate), namun kurang mampu dalam menganalisis jawabannya (analyze), memberikan alasan dengan jelas mengapa memilih metode/rumus tersebut untuk mengerjakan soal (list) dan tidak memeriksa kembali jawabannya (self-correct) karena sudah yakin bahwa jawabannya benar.

Item Type: Skripsi
Subjects: Matematika
Divisions: Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan > Tadris Matematika
Depositing User: 17204153203 NOVI QURROTUL A’YUUN
Date Deposited: 03 Jul 2019 08:14
Last Modified: 03 Jul 2019 08:14
URI: http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/11712

Actions (login required)

View Item View Item