TRADISI UPACARA PERNIKAHAN ADAT JAWA DI KABUPATEN TULUNGAGUNG DALAM PERSPEKTIF FEMINISME PROFETIK

MOCHAMMAD NOR ICHSAN AQIBINNASIK, 1732143015 (2018) TRADISI UPACARA PERNIKAHAN ADAT JAWA DI KABUPATEN TULUNGAGUNG DALAM PERSPEKTIF FEMINISME PROFETIK. [ Skripsi ]

[img]
Preview
Text
COVER.pdf

Download (1MB) | Preview
[img]
Preview
Text
ABSTRAK.pdf

Download (479kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (106kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB I.pdf

Download (202kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB II.pdf

Download (441kB) | Preview
[img] Text
BAB III.pdf

Download (216kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (265kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (271kB)
[img] Text
BAB VI.pdf

Download (114kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (177kB)

Abstract

ABSTRAK Skripsi dengan judul “Tradisi Upacara Pernikahan Adat Jawa di Kabupaten Tulungagung dalam Perspektif Feminisme Profetik” ini ditulis oleh Mochammad Nor Ichsan Aqibinnasik, Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam, NIM 1732143015, Pembimbing Prof. Dr. Mujamil, M.Ag dan Dr. Teguh, M.Ag. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena upacara pernikahan adat Jawa di kabupaten Tulungagung, seperti tradisi sungkeman, injak telur, basuh kaki, dan kacar-kucur yang mana dalam tata cara pelaksanaannya menimbulkan bias gender atau ketidaksetaraan gender. Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah: 1.) Bagaimana perspektif feminisme profetik terhadap tradisi sungkeman pada temu manten di Tulungagung, 2.) Bagaimana perspektif feminisme profetik terhadap tradisi injak telur pada temu manten di Tulungagung, 3.) Bagaimana perspektif feminisme profetik terhadap tradisi basuh kaki pada temu manten di Tulungagung, 4.) Bagaimana perspektif feminisme profetik terhadap tradisi kacar-kucur pada temu manten di Tulungagung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi partisipasi, metode wawancara mendalam, dan dokumentasi. Adapun data yang terkumpul dianalisis melalui tahapan: 1) Reduksi Data, 2) Display Data, 3) Verifikasi dan Simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1.) Tradisi sungkeman yang bermakna sebagai ketaatan, penghormatan dan pengabdian seorang istri terhadap suami berumah tangga, istri sudah siap mengabdi dan tut wuri kepada suami, mendapat pandangan lain dari aktivis feminisme yang menganut feminisme profetik. Bentuk pandangan tersebut ialah bahwa tradisi sungkeman ini tidak relevan jika di dalam pelaksanaannya tidak memperlihatkan imbal balik dari sang suami, seperti mencium kening atau yang lainnya, hal inilah yang memperlihatkan budaya patriarki tetap ada dalam kehidupan rumah tangga, 2.) Tradisi injak telur yang bermakna pecahnya keperawanan seorang istri dan keperjakaan seorang suami, mendapat pandangan lain dari aktivis feminisme yang menganut feminisme profetik, bahwa tradisi injak telur ini memiliki pemaknaan apabila suami memiliki kesalahan, maka istri harus ikut turun tangan untuk menanggung kesalahan suami dan tidak berlaku sebaliknya, sehingga hal ini menyebabkan awal mula subordinasi terhadap istri. Hal ini yung menunjukkan Budaya patriarki masih melekat. 3.) Tradisi basuh kaki yang bermakna sebagai simbolisasi bakti mempelai wanita kepada mempelai pria, menghilangkan sukreta atau halangan agar tujuan perjalanan menuju keluarga bahagia dijauhkan dari kesulitan dan mara bahaya. Melihat tata cara tradisi ini, aktivis feminisme profetik berpandangan bahwa tradisi basuh kaki ini erat kaitannya dengan tradisi injak telur. Jadi jika tradisi injak telur memiliki pemaknaan apabila suami memiliki kesalahan, maka basuh kaki bermakna istri harus ikut turun tangan untuk menanggung kesalahan suami dan tidak berlaku sebaliknya, sehingga menyebabkan awal mula perilaku suborndinat pada perempuan. Hal ini menunjukkan adanya budaya patriarki pada tradisi ini, 4.) Tradisi kacar-kucur yang bermakna bentuk tanggung jawab suami kepada istri dengan memberikan nafkah kepadanya, mendapat pandangan dari aktivis feminisme profetik bahwa simbolisasi istri menengadah, juga semacam ilusi, yang mana istri hanya menerima, padahal realitasnya juga memberi. Hal itu menghilangkan peran penting perempuan baik mencari uang khas atau menyumbang tenaganya bahwa dia juga berkontribusi terhadap rumah tangga. Hal ini menunjukkan adanya budaya patriarki yang menyebabkan subornidat perempuan. Kata Kunci: Sungkeman, Injak Telur, Basuh Kaki, Kacar-Kucur, Feminisme Profetik

Item Type: Skripsi
Subjects: Agama
Divisions: Fakultas Ushuluddin, Adab Dan Dakwah > Filsafat Agama
Depositing User: 1732143015 MOCHAMMAD NOR ICHSAN AQIBINNASIK
Date Deposited: 16 May 2018 04:11
Last Modified: 16 May 2018 04:11
URI: http://repo.uinsatu.ac.id/id/eprint/7931

Actions (login required)

View Item View Item