DINAMIKA KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERAPIS DALAM KEGIATAN TERAPI ANAK RETARDASI MENTAL DI RUMAH BELAJAR ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) POPEYE KIDS CENTRE

SHOLIHAH, 2833133055 (2017) DINAMIKA KOMUNIKASI TERAPEUTIK TERAPIS DALAM KEGIATAN TERAPI ANAK RETARDASI MENTAL DI RUMAH BELAJAR ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) POPEYE KIDS CENTRE. [ Skripsi ]

[img] Text
COVER.pdf

Download (860kB)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (408kB)
[img] Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (48kB)
[img] Text
BAB I .pdf

Download (334kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (526kB)
[img] Text
BAB III .pdf

Download (324kB)
[img] Text
BAB IV .pdf

Download (446kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (163kB)
[img] Text
BAB VI.pdf

Download (18kB)
[img] Text
DAFTAR RUJUKAN.pdf

Download (124kB)

Abstract

ABSTRAK Skripsi dengan judul “Dinamika Komunikasi Terapeutik Terapis dalam Kegiatan Terapi Anak Retardasi Mental di Rumah Belajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Popeye Kids Centre” ini ditulis oleh Sholihah NIM. 2833133055, Pembimbing Khalimatus Sa’diyah.M,Si. Kata Kunci: Dinamika Komunikasi Terapeutik, Terapis, Retardasi Mental. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kasus yang terjadi dalam kegiatan terapi anak retardasi mental yang mengalami hambatan dalam berbicara. Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian ini untuk mengetahui dinamika komunikasi terapeutik yang dilaksanakan oleh terapis dalam kegiatan terapi anak retardsi mental di rumah belajar anak berkebutuhan khusus (ABK) Popeye Kids Centre. (1) Bagaimana proses komunikasi terapeutik dalam kegiatan terapi anak retardasi mental? (2) Bagaimana bentuk komunikasi verbal dan nonverbal dalam kegiatan terapi anak retardasi mental? (3) Apa saja faktor penghambat dan pendukung dalam komunikasi terapeutik anak retardasi mental? (4) Bagaimana dampak komunikasi terapeutik yang diterapkan oleh terapis dalam kegiatan terapi anak retardasi mental? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui proses komunikasi terapeutik dalam kegiatan terapi anak retardasi mental. (2) Untuk mengetahui bentuk komunikasi verbal dan nonverbal dalam kegiatan terapi anak retardasi mental. (3) Untuk mengetahui apa saja faktor pendukung dan penghambat dalam komunikasi terapeutik anak retardasi mental. (4) Untuk mengetahui dampak komunikasi terapeutik yang diterapkan oleh terapis dalam kegiatan terapi anak retardasi mental. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan menggunakan 6 orang subyek terapis di Rumah Belajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Popeye Kids Centre yang aktif menjalankan terapi dengan anak retardasi mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Proses komunikasi terapeutik dilaksanakan dengan cara menyesuaikan kegiatan terapi pada kondisi anak saat terapi. Kegiatan yang sudah direncanakan dalam buku penghubung tetap dilaksanakan namun alurnya fleksibel disesuaikan dengan kondisi emosi anak. Adapun hal yang pertama kali dilaksanakan ketika berkomunikasi adalah kontak mata. (2) Bentuk komunikasi verbal berupa kalimat dan kata serta bahasa yang mudah difahami oleh anak retardasi mental dan bentuk komunikasi nonverbal berupa tindakan untuk mengkondisikan anak supaya mengikuti kegiatan terapi dengan baik, meliputi kontak mata, intonasi suara, dan gerak tubuh seperti menyentuh atau posisi duduk. (3) Faktor penghambat dan pendukung dalam komunikasi terapeutik anak retardasi mental berupa resistensi, transferens, dan kontertransferens. Adapun faktor pendukung berupa emosi anak terkendali, daya konsentrasi anak baik, media terapi sebagai alat bantu untuk berbicara dengan anak dan suasana yang kondusif. (4) Dampak komunikasi terapeutik yang diterapkan oleh terapis dalam kegiatan terapi anak retardasi mental berupa positif dan negatif. Positif berupa anak sudah mampu merespon dengan baik, kosa kata anak bertambah. Dampak negatif berupa masih adanya perilaku yang tidak sesuai harapan subyek dan orangtua anak yakni, artikulasi (pengucapan) anak belum jelas, dan masih adanya sifat malas saat kegiatan terapi. Saran untuk terapis yang masih baru maupun yang sudah lama, diharapkan dapat memahami kondisi anak supaya hambatan dalam komunikasi dapat diminimalisir. Karena sikap yang ditunjukkan terapis dapat mempengaruhi keberhasilan terapi. Kontrol emosi terapis saat berkomunikasi sangat diperlukan supaya terapi berhasil dan menunjukkan hasil yang maksimal. Selain itu penguasaan skill dalam menangani anak berkebutuhan khusus juga harus ditingkatkan lagi. Untuk lembaga, supaya meningkatkan pelayanan yang diberikan dengan maksimal, supaya output dari terapi yang telah dilaksanakan juga maksimal sehingga dapat terjadi perubahan yang positif pada anak setelah melakukan terapi. Adapun untuk media terapi yang digunakan sebaiknya ditambah lagi supaya lebih bervariasi dan membuat anak tidak bosan dengan media terapi yang digunakan. Selain itu perlu adanya pelatihan terhadap terapis mengenai anak berkebutuhan khusus, supaya terapis mengetahui jenis gangguan apa yang sedang dihadapi oleh anak. Sehingga terapis dapat menerapkan program terapinya sesuai dengan kondisi anak.

Item Type: Skripsi
Subjects: Ilmu Komunikasi
Divisions: Fakultas Ushuluddin, Adab Dan Dakwah > Tasawuf Psikoterapi
Depositing User: 2833133055 SHOLIHAH
Date Deposited: 28 Dec 2017 04:27
Last Modified: 28 Dec 2017 04:27
URI: http://repo.iain-tulungagung.ac.id/id/eprint/7024

Actions (login required)

View Item View Item