KEPEMIMPINAN KIAI DALAM PEMBARUAN PONDOK PESANTREN ( Studi Multi Situs Di Pondok Pesantren Lirboyo Dan Pondok Pesantren Al Falah Kediri)

Winarto, Win (2015) KEPEMIMPINAN KIAI DALAM PEMBARUAN PONDOK PESANTREN ( Studi Multi Situs Di Pondok Pesantren Lirboyo Dan Pondok Pesantren Al Falah Kediri). [ Thesis ]

[img]
Preview
Text
BAB 1 ok.pdf

Download (284kB) | Preview
[img] Text
BAB 2 ok.pdf

Download (691kB)
[img]
Preview
Text
BAB 3 ok.pdf

Download (382kB) | Preview
[img] Text
BAB 6 ok.pdf

Download (236kB)
[img]
Preview
Text
Abstrak ok.pdf

Download (952kB) | Preview
[img]
Preview
Text
DAFTAR RUJUKAN.pdf

Download (158kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB 5 ok.pdf

Download (4MB) | Preview
[img]
Preview
Text
BIOGRAFI PENULIS.pdf

Download (147kB) | Preview
[img]
Preview
Text
BAB 4 ok.pdf

Download (14MB) | Preview

Abstract

ABSTRAK Winarto, 2015 “Kepemimpinan Kiai Dalam Pembaruan Pondok Pesantren (Studi Multi Situs Di Pondok Pesantren Lirboyo Dan Pondok Pesantren Al Falah) ,Tulungagung” Dosen Pembimbing Dr. Maftukhin, M.Ag, M.Pd.I dan Dr. Ngainun Naim, MH.I Kata kunci: Kepemimpinan Kiai, Pembaruan. Adanya pergantian pimpinan yang terjadi di kalangan pesantren, menimbulkan perubahan tata kelola pesantren. Akibatnya menjadikan pola kepemimpinan yang berlainan, seiring dengan dinamisnya zaman dan berkembangnya pondok pesantren ke dalam bentuk unit-unit yang banyak. Sehingga Kiai sebagai pimpinan tunggal dalam pesantren memiliki peran utama terhadap perkembangan pesantren. Tentunya periode satu dengan lainnya memiliki perbedaan dalam memimpin pesantren agar tetap eksis dan berkembang terhindar dari perpecahan. Oleh karena itu butuh sebuah sikap yang arif dan bijaksana dalam menyikapi perubahan dan keberagaman yang ada dalam unit-unit pesantren. Tanpa meninggalkan identitas kesalafan yang sudah ada di dalam pesantren tersebut. Sehingga pondok dapat berkembang dan harmonis dalam menata pesantren ke depan tanpa meninggalkan tradisi yang terdahulu. Pondok Pesantren Lirboyo dan Al Falah adalah dua diantara pesantren yang memberikan contoh kepemimpinan yang baik sebagai pembelajaran bagi pesantren lainya. Fokus dari penelitian ini adalah: 1) Bagaimana Gaya Kepemimpinan pesantren tersebut, 2) Bagaimana Periodesasi Kepemimpinan Pesantren tersebut, 3) Bagaimana Pimpinan Pesantren Menjalin Keharmonisan dengan Unit-Unit, 4) Bagaimana Kebijakan Pimpinan Dalam Mengikat Unit dan Menyikapi Keberagaman Unit-Unit Pesantren. Tujuan penelitian ini adalah 1) Untuk Mendiskripsikan Bagaimana gaya Kepemimpinan Pesantren, 2) Untuk Mendiskripsikan Bagaimana Periodesasi Kepemimpinan Pesantren, 3) Untuk Mendiskripsikan Bagaimana Pimpinan Menjalin Keharmonisan dengan Unit-Unit, 4) Untuk Mendiskripsikan Bagaimana Pimpinan menyikapi keberagaman unit-unit pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis naturalistic. Teknik pengumpulan data dilakukan dangan 1) Observasi Partisipan, 2) Wawancara mendalam, 3) Dokumentasi. Informan diambil teknik purposive. Wujud data adalah kata-kata, catatan, laporan, dan dokumen yang diperoleh dari pengasuh pontren, para asatidz dan guru, kemudian murid (santri) pontren Lirboyo dan Al Falah Kediri. Teknis analisis data dimulai dengan cara: Reduksi Data, Penyajian , dan Mengambil Kesimpulan. Sedangkan pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan 1) Kredibilitas, 2) Triangulasi data, 3) . Triangulasi Sumber data, 4) Konfirmabilitas, 5) Diskusi Teman Sejawat, Adapun hasil dari penelitian tesis ini sebagai berikut: (a) Gaya Kepemimpinan Tunggal Kiai dengan model Otoriter-karismatik, (b) Gaya Kepemimpinan Dwi Tunggal model Demokratik-Karismatik, (c) Gaya Kepemimpinan Tri Tunggal Kiai dengan model demokratik-karismatik, (d) Gaya Kepemimpinan Kolektif Kiai dalam bentuk BPK-P2L dan Dewan Masyayihk, secara keorganisasian berjalan kolektif namun dalam otorita kelembagaan unit bersifat individualistik. Dari aspek periodesasi kepemimpinan pesantren meliputi: a) Periode Satu atau generasi perintis, (b) Periode ke dua dan tiga dikenal dengan periode perkembangan mengadakan kerjasama warga pontren, wali santri dan masyarakat, adanya keikutsertaan santri senior dalam mengelola pesantren (c) Periode ke empat kepemimpinan kolektif 1 generasi ke tiga, (d) Periode ke lima kepemimpinan kolektif 2 generasi ke tiga, dalam kepemimpinan kolektif ini pendelegasian wewenang sudah tertata dengan baik. Termasuk struktur terbentuk dengan tugas yang jelas kiai hanya memotofasi dan mengevaluasi. Bentuk dari pemimpinan pesantren menjalin keharmonisan dengan unit meliputi: a) Kegiatan formal dalam betuk konfrensi Dewan masyayihk, musyawarah BPK-P2L, haflah, peringatan haul muasis, serta musyawarah lainya. b) kegiatan non formal yang tidak tertulis silaturahim atar kiai, ngayu bagyo acara di pondok unit, saling mengunjungi jika satu kiai sakit. Termasuk dalam hal ini adanya perkawinan silang antara dzuriyah pondok pesantren, yang menjadikan pesantren semakin kokoh dan saling memiliki. c) adanya moto yang ada pada pesantren, diantaranya: 1. Yang ditanamkan oleh Muasis adalah Dzuriyah bi nasab (keturunan biologis) dan Dzuriyah fil ilmi (karena ikatan ilmu) kedua hal ini menjadikan metode motivasi bagi keturunan langsung dari pendiri pesantren dan santri alumni untuk menjaga dan mengembangkan pesantren Lirboyo ke depan. 2. Yang ditanamkan oleh Kiai Generasi Awal adalah Al itihad al Wahdah (persatuan dan kesatuan dalam mengelola pesantren Al Falah) karena putra-putra yang banyak sehingga sangat perlu adanya moto yang harus di gunakan oleh muasis. Kebijakan Pemimpinan pesantren mengikat unit-unit dan menyikapi keberagaman unit meliputi: a) Keputusan yang disepakatati dan diputuskan oleh badan tertinggi pesantren (BPK-P2L dan Dewan Masyayihk) bersifat mengikat terhadap pesantren baik induk dan unit khususnya dalam kegiatan pembelajaran madrasah. Namun karena unit berdiri secara otonom dan memiliki sistem pembelajaran yang berbeda dengan unit maka tidak semuanya keputusan dapat mengikat pondok unit. Tetapi tetap melaporkan perkembangan pondok pesantren unit ke badan tertinggi. b) Kiai sebagai pimpinan utama pesantren merestuai dan menyetujui pembaruan yang ada dalam pesantren, akan tetapi untuk pondok induk tetap sebagai bentuk ciri khas pesantren dengan sistem pembelajaran salaf murni. Namun tidak menutup mata terhadap perkembangan dan kebutuhan santri akan pengakuan formal (ijazah), untuk pondok unit diterapkan sistem kholaf (kurikulum) yang teritegrasi dengan Kementrian Agama. Dengan pendidikan sistem kholaf berada di luar kompleks (area) pondok Induk dan berdiri secara otonom namun tetap di bawah badan tertinggi pesantren.

Item Type: Thesis (UNSPECIFIED)
Subjects: Pendidikan > Pendidikan Islàm
Divisions: Pascasarjana > Thesis > Pendidikan Islam
Depositing User: daftar Juli Mohamad Juliantoro
Date Deposited: 16 Dec 2015 08:03
Last Modified: 16 Dec 2015 08:03
URI: http://repo.iain-tulungagung.ac.id/id/eprint/2768

Actions (login required)

View Item View Item