KARAKTERISTIK INTUISI DALAM MEMECAHKAN MASALAH TRIGONOMETRI DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA KELAS XI MAN 1 TRENGGALEK KELUTAN TRENGGALEK

17204163018, INTAN AMALIA (2020) KARAKTERISTIK INTUISI DALAM MEMECAHKAN MASALAH TRIGONOMETRI DITINJAU DARI GAYA BELAJAR SISWA KELAS XI MAN 1 TRENGGALEK KELUTAN TRENGGALEK. [ Skripsi ]

[img] Text
COVER.pdf

Download (634kB)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (359kB)
[img] Text
DAFTAR ISI.pdf

Download (134kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (338kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (498kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (222kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (1MB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (455kB)
[img] Text
BAB VI.pdf

Download (215kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (220kB)

Abstract

ABSTRAK Skripsi dengan judul “Karakteristik Intuisi Dalam Memecahkan Masalah Matematika Ditinjau Dari Gaya Belajar Siswa Man 1 Trenggalek” ini ditulis oleh Intan Amalia, NIM. 17204163018, pembimbing Dr. Muniri M.Pd., NIP.196811302007011002 Kata Kunci: karakteristik intuisi, gaya belajar, menyelesaikan masalah Apabila seorang siswa dihadapkan permasalahan trigonometri sudah barang tentu melibatkan kemampuan berbagai aktivitas berpikir yang dimiliki. Peran intuisi sebagai bagian dari aktivitas berpikir memiliki posisi strategis dalam menentukan langkah awal atau menemukan cara terbaik dalam memahami, merencanakan , menyelesaikan masalah dan memeriksa kembali. Setiap individu memiliki sifat, cara pandang dan gaya belajar berbeda dalam menyikapi permasalahan trigonometri, sehingga berakibat keterlibatan atau kehadiran intuisi pun dimungkinkan berbeda pula dalam menyelesaikan masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan mengeksplorasikan karakteristik intuisi iswa MAN 1 Trenggalek bergaya belajar visual (GBV), auditorial (GBA) dan Kinestetik (GBK) dalam menyelesaikan masalah trigonometri dalam langkah-langkah Polya. Untuk mencapai tujuan tersebut, peneliti menetapkan enam subjek penelitian dan satu masalah utama, yaitu masalah trigonometri. keenam subjek penelitian tersebut terdiri atas dua subjek bergaya belajar visual (GBV), dua subjek bergaya belajar auditorial (GBA) dan dua subjek bergaya belajar Kinestetik (GBK) . Peneliti juga melakukan wawancara mendalam terhadap enamt subjek tersebut. Wawancara tersebut dilakukan pada saat atau setelah subjek menyelesaikan tugas. Analisis data dalam penelitian ini melalui beberapa tahap, yaitu reduksi data, menyajikan data dan menarik kesimpulan. Secara rinci langkah-langkah analisis data tersebut adalah: (1) mentranskrip data, (2) menelaah seluruh data yang tersedia, (3) mereduksi data, (4) mengkategorisasikan data dengan pengkodean, (5) menvalidasi data dengan triangulasi, (6) menginterpretasi data, dan (7) menarik kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah: Saat memahami masalah, subyek GBV menggunakan intuisi affirmatory dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi self-evident, sedangkan subyek GBA dan subyek GBK menggunakan intuisi antisipatori dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi Perseverance. Karakteristik intuisi self-evident muncul pada saat subyek GBV memahami masalah (soal) langsung melalui membaca soal satu kali. karakteristik intuisi Perseverance muncul pada saat subyek GBA dan subyek GBK membaca soalnya namun tidak paham jadi subyek harus membaca berulang kali dengan berpikir keras. Saat merencanakan penyelesaian, subyek GBV dalam merencanakan penyelesaian menggunakan intuisi affirmatory dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi globality, subyek GBA menggunakan intuisi affirmatory dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi Extrapolativeness sedangkan subyek GBK menggunakan intuisi affirmatory dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi teory status. karakteristik intuisi globality muncul pada saat subyek GBV membaca soal kemudian langsung menuliskan apa yang diketahui dan apa yanng ditanyakan dalam soal dan segera menggambar segitiga tanpa membayangkan segitiga terlebih dahulu (tidak menggunakan feeling) dan otomatis udah paham rumusnya dengan memperhatikan yang diketahui dan ditanyakan dalam soal sekaligus memperhatikan gambar. karakteristik intuisi Extrapolativeness muncul pada saat subyek GBA tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanya kan dalam soal namun saat membaca langsung membayangkan objek (menggunakan feeling) dan menduga bahwa gambarnya segitiga (memperkirakan dengan feeling atau bayangannya). karakteristik intuisi teory status muncul pada saat subyek GBK menuliskan apa yang diketahui dan apa yanng ditanyakan dalam soal (tidak menggunakan feeling) kemudian terbayang gambar letak tumor dan letak sumber radiasi yang apabila dihubungkan membentuk segitiga. Ilustrasi gambar digunakan perantara (jembatan) memudahkan menentukan solusi awal. Saat menyelesaikan masalah subyek GBV menggunakan intuisi afirmatori dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi Perseverance, Coerciveness dan teory status, subyek GBA menggunakan intuisi antisipatori dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi Extrapolativeness , Implicitness , self–evidence dan Perseverance sedangkan subyek GBK menggunakan intuisi antisipatori dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi Extrapolativeness, globality dan Coerciveness. 1) karakteristik intuisi Perseverance muncul pada saat subyek GBV menggunakan rumus sinus berdasarkan hasil analisis subyek terhadap gambar yang subyek lakukan dengan segera tanpa berusaha keras namun bersifat kokoh dan stabil ( subyek tidak berubah pikiran menggunakan rumus yang lain). karakteristik intuisi Coerciveness muncul pada saat subyek GBV menyatakan bahwa rumusnya ya hanya satu itu dan tidak rumus yang lain. karakteristik intuisi teory status muncul pada saat subyek GBV mengatakan bahwa subyek tidak bisa menyelesaikan kalau tidak di gambar. 2) karakteristik intuisi Extrapolativeness muncul pada saat subyek GBA berpikir keras dengan mencoba coba atau menduga jawaban yang mungkin dengan menghitung dua cara yang berbeda. karakteristik intuisi Implicitness muncul pada saat subyek GBA mencoret kedua jawabannya karena tidak yakin namun secara implisit subyek hanya menyelesaikan hitungan gambar pertama yang subyek buat sedangkan gambar kedua hanya setengah hitungan saja sehingga jawaban yang digunakan subyek secara implisit adalah cara pertamanya. karakteristik intuisi self–evidence muncul pada saat subyek GBA menganggap jawabannya benar dengan sendirinya, padahal subyek menyelesaikan masalah ini berdasarkan feeling tanpa pembuktian apapun hanya sekedar menduga berdasarkan feeling saja, karakteristik intuisi Perseverance muncul pada saat subyek GBA subyek menuliskan 2 jawaban akhir yang berbeda dan tidak menghapus salah satunya karena tidak yakin. Subyek beranggapan bahwa guru akan membenarkan salah satu dari jawaban subyek yang benar apabila ia menjawab dengan 2 hasil akhir yang berbeda. 3) karakteristik intuisi Extrapolativeness muncul pada saat subyek GBK tidak langaung menyelesaikan masalah namu membutuhkan beberapa waktu untuk berpikir keras. Awalnya subyek kebingungan kemudian subyek menduga atau meramalkan sudut kemiringan dapat dicari dengan mencari sisi miring terlebih dahulu. karakteristik intuisi globality muncul pada saat subyek GBK Subyek berpikir keras untuk keluar dari kesulitan yang subyek alami sehingga subyek memutuskan untuk mencari alternatif penyelesaian yang lain yang subyek temukan dengan sekedar menduga saja. karakteristik intuisi Coerciveness muncul pada saat subyek GBK meyakini jawabannya karena merasa subyek sudah berpikir keras untuk menyelesaikannya Saat memeriksa kembali, subyek GBV menggunakan intuisi affirmatory dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi teory status, subyek GBA menggunakan intuisi affirmatory dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi Globality sedangkan subyek GBK menggunakan intuisi affirmatory dengan mengaplikasikan karakteristik intuisi intrinsic certainty. karakteristik intuisi teory status muncul pada saat subyek GBV memeriksa kembali jawabannya dengan menmgandalkan gambar sebagai acuan dalam penalaran nya yang dengan segera dapat menentukan kebenaran dari jawabannya. karakteristik intuisi Globality muncul pada saat subyek GBA memeriksa jawabannya dengan segera namun subyek tetap tidak yakin sehingga subyek menjawab dua hasil yang berbeda. melalui perkiraan secara global subyek menuliskan dua jawaban yang berbeda namun subyek tidak mampu menjelaskan jawaban mana yang ia yakini kebenarannya. karakteristik intuisi intrinsic certaint muncul pada saat subyek GBK memeriksa jawabannya dengan segera dengan memperhatikan aspek-aspek penting dalam jawabannya seperti apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal dan gambar yang ia buat. Kemudian dengan segera subyek dapat menyatakan kebenaran jawabannya. Subyek merasa jawabannya sudah benar dengan hanya mengecek sekilas.

Item Type: Skripsi
Subjects: Matematika
Pendidikan > Pendidikan Umum
Divisions: Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan > Tadris Matematika
Depositing User: Intan Amalia 17204163018
Date Deposited: 19 Aug 2020 07:55
Last Modified: 19 Aug 2020 07:55
URI: http://repo.iain-tulungagung.ac.id/id/eprint/16122

Actions (login required)

View Item View Item