“AMALAN RUTIN BA’DA SHALAT MAKTUBAH DI PONDOK PESANTREN PUTRI IHYAUL ULUM MANYAR LAMONGAN” (STUDI LIVING QUR’AN)

17301163033, DIAH AYU KURNIANTI (2020) “AMALAN RUTIN BA’DA SHALAT MAKTUBAH DI PONDOK PESANTREN PUTRI IHYAUL ULUM MANYAR LAMONGAN” (STUDI LIVING QUR’AN). [ Skripsi ]

[img] Text
COVER.pdf

Download (627kB)
[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (766kB)
[img] Text
DAFTAR ISI .pdf

Download (403kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (435kB)
[img] Text
BAB II.pdf

Download (564kB)
[img] Text
BAB III.pdf

Download (875kB)
[img] Text
BAB IV.pdf

Download (475kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (339kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (376kB)

Abstract

ABSTRAK Skripsi yang berjudul “Amalan Rutin Ba’da Shalat Maktubah Di Pondok Pesantren Putri Ihyaul Ulum Manyar Lamongan (Studi Living Qur’an)” ini ditulis oleh Diah Ayu Kurnianti, NIM 17301163033, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Tulungagung, 2020, Pembimbing Adrika Fithrotul Aini, M.Ag. Kata kunci: Amalan Rutin, Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Manyar Lamongan, Living Qur’an. Penelitian ini membahas mengenai amalan rutin yang dilaksanakan ba’da shalat maktubah di Pondok Pesantren putri Ihyaul Ulum yang terletak di Desa Manyar, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Rangkaian amalan rutin ini terdiri dari Surat Al-Insyirah, do’a Nabi Musa As, do’a kemudahan dalam belajar, Surat At-taubah ayat 128-129 dan amalan dari Habib Idrus dari Yaman. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, pertama, bagaimana proses pelaksanaan pembacaan amalan rutin ba’da shalat maktubah di Pondok Pesantren putri Ihyaul Ulum Manyar Lamongan? Kedua, apa makna pembacaan serangkaian amalan rutin ba’da shalat maktubah di Pondok Pesantren putri Ihyaul Ulum Manyar Lamongan?. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan menggambarkan atau melukiskan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun pembacaan amalan rutin ba’da shalat maktubah di Pondok Pesantren putri Ihyaul Ulum Manyar Lamongan dilihat menggunakan tiga makna dalam Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim, yaitu makna objektif, ekspresifdan dokumenter. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: Pertama, praktik amalan rutin ba’da shalat maktubah di Pondok Pesantren putri Ihyaul Ulum Manyar Lamongan dilaksanakan setelah membaca wiridan ba’da shalat maktubah yang dipimpin oleh pengasuh pesantren, namun jika pengasuh sedang berhalangan, maka akan di imami oleh keluarga ndalem atau dewan Masayih pesantren. Amalan rutin ini dimulai dengan wiridan ba’da shalat pada umumnya, lalu dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Insyirah yang diulang sebanyak tiga kali dan pada setiap pengulangannya diawali dengan basmallah terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan membaca do’a Nabi Musa As, do’a kemudahan dalam belajar, Surat At-taubah sebanyak tujuh kali, dan dilanjutkan dengan membaca amalan dari habib Idrus dari Yaman kemudian ditutup dengan membaca surat Al-Fatihah. Amalan rutin ini dilaksanakan tepat setelah pembacaan wirid ba’da shalat maktubah, dengan posisi duduk seperti pada saat membaca wiridan yang masih dalam shaf shalat dan menghadap kiblat. Amalanrutin ini diikuti oleh semua santriwati, dengan catatan, bagi santriwati yang sedang berhalangan (haid) mengikuti di teras musholla. Karena amalan rutin ba’da shalat ini bersifat wajib bagi seluruh santri, maka jumlah santriwati yang mengikuti terbilang tetap, kecuali pada saat jama’ah subuh, banyak santri yang sedang berhalangan (haid) memilih tidak mengikuti amalan rutin tersebut. Kedua, adapun makna pembacaan amalan rutin ba’da shalat maktubah ini terdapat tiga makna. (1) Makna objektif, yaitu makna awal yang menjadikan amalan rutin di Pondok Pesantren putri Ihyaul Ulum Manyar Lamongan sebagai kewajiban atau hanya rutinitas semata. makna objektif ini penulis klasifikasikan menjadi tiga, yaitu: makna objektifmenurut santriwati, yaitu menganggap amalan rutin ba’da shalat maktubah sebagai kewajiban yang berawal dari kebiasaan. Menurut pengurus, yaitu menganggap amalan rutin ba’da shalat maktubah sebagai kewajiban yang berawal dari tugas dan tuntutan sebagai pengurus. Menurut pengasuh Pesantren, yakni berharap agar santriwati dapat dimudahkan dalam segala urusan, khususnya dalam belajar dan pembentukan akhlak lewat kedisiplinan. (2) Makna ekspresif, yaitu makna yang diresapi oleh pelaku pelaksanaan amalan rutin yang berkaitan dengan tindakan atau perilaku. Makna ekspresif ini penulis klasifikasikan menjadi dua macam, yaitu makna ekspresif secara batiniyah dan lahiriyah. (3) Makna dokumenter, yaitu makna yang sudah terdokumen dalam setiap personal sebagai makna yang tersirat atau tersembunyi, sehingga pelaku tindakan tersebut tidak sepenuhnya menyadari bahwa suatu aspek yang diekspresikan menunjukkan kepada kebudayaan secara keseluruhan.

Item Type: Skripsi
Subjects: Agama
Divisions: Fakultas Ushuluddin, Adab Dan Dakwah > Ilmu Al-Quran Dan Tafsir
Depositing User: DIAH AYU KURNIANTI 17301163033
Date Deposited: 18 Aug 2020 01:52
Last Modified: 18 Aug 2020 01:52
URI: http://repo.iain-tulungagung.ac.id/id/eprint/16058

Actions (login required)

View Item View Item